PROBOLINGGO – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo mencatat adanya perbaikan pada kinerja sektor perhotelan selama April 2026. Berdasarkan data resmi, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel mencapai 20,50 persen, naik 2,32 poin dibandingkan Maret 2026 yang tercatat sebesar 18,18 persen.
Meski menunjukkan tren positif, angka tersebut juga mengindikasikan bahwa sekitar 79,50 persen kapasitas kamar hotel di Kota Probolinggo masih belum terisi selama April. Dengan kata lain, hanya sekitar satu dari lima kamar hotel yang berhasil terjual.
Kepala BPS Kota Probolinggo, Joko Santoso, menjelaskan peningkatan okupansi pada April tidak terjadi secara merata di seluruh jenis hotel. Berdasarkan hasil pengumpulan data BPS, kenaikan terutama berasal dari hotel berbintang, sedangkan tingkat hunian hotel nonbintang relatif tidak mengalami perubahan yang signifikan.
Menurutnya, salah satu faktor utama yang memengaruhi kenaikan tersebut adalah meningkatnya aktivitas perjalanan dinas dari luar daerah, baik yang dilakukan instansi pemerintah maupun sektor swasta.
“Momentum perjalanan dinas dari luar kota menjadi salah satu pendorong meningkatnya tingkat hunian hotel. Dampaknya lebih terasa pada hotel berbintang yang memang menjadi pilihan utama tamu perjalanan dinas,” ujar Joko, pada rabu (1/7/2026) siang.
Data BPS menunjukkan, sepanjang April 2026 jumlah malam kamar tersedia (MKTS) tercatat sebanyak 26.190 kamar, sedangkan malam kamar terjual (MKTJ) mencapai 5.370 kamar. Jika dibandingkan dengan Maret 2026, jumlah kamar yang tersedia justru mengalami penurunan, sementara jumlah kamar yang berhasil terjual meningkat dari 4.919 menjadi 5.370 malam kamar, atau bertambah 451 malam kamar.
Kondisi tersebut menjadi faktor utama meningkatnya tingkat okupansi hotel. Dengan pasokan kamar yang lebih sedikit tetapi permintaan yang meningkat, persentase kamar terisi secara otomatis mengalami kenaikan.
Bila melihat tren selama satu tahun terakhir, tingkat hunian hotel di Kota Probolinggo mengalami fluktuasi. Pada April 2025, TPK masih berada di angka 22,73 persen, kemudian sempat menyentuh 24,94 persen pada Agustus 2025, sebelum terus mengalami penurunan hingga hanya 17,35 persen pada Januari 2026. Setelah naik menjadi 18,29 persen pada Februari dan 18,18 persen pada Maret, okupansi akhirnya kembali meningkat menjadi 20,50 persen pada April 2026.
Meski demikian, angka tersebut masih berada di bawah capaian pada sebagian besar periode tahun 2025. Hal ini menunjukkan bahwa sektor perhotelan di Kota Probolinggo masih dalam proses pemulihan dan belum kembali ke tingkat okupansi yang lebih tinggi.
Di sisi lain, peningkatan jumlah tamu belum berdampak pada lamanya wisatawan maupun pelaku perjalanan menginap di hotel. Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) selama April 2026 masih stagnan di angka 1,00 hari untuk tamu domestik dan 1,01 hari untuk tamu asing. Angka tersebut hampir tidak berubah sepanjang satu tahun terakhir.
Stabilnya RLMT menunjukkan bahwa mayoritas tamu yang datang ke Kota Probolinggo masih melakukan kunjungan singkat atau short stay, baik untuk urusan pekerjaan, perjalanan dinas, maupun aktivitas bisnis yang tidak memerlukan waktu menginap lebih dari satu malam.
BPS menilai, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata. Sebab, peningkatan okupansi yang hanya ditopang perjalanan dinas dinilai belum cukup untuk menciptakan pertumbuhan sektor perhotelan yang berkelanjutan.
Selain meningkatkan jumlah tamu, pemerintah juga perlu mendorong strategi yang mampu memperpanjang lama tinggal pengunjung melalui penyelenggaraan agenda wisata, kegiatan berskala regional maupun nasional, penguatan sektor ekonomi kreatif, serta promosi destinasi wisata yang mampu menarik wisatawan untuk menghabiskan lebih banyak waktu di Kota Probolinggo.
Joko Santoso menambahkan, pemerintah daerah juga perlu menyusun kebijakan yang dapat meningkatkan okupansi secara lebih merata, tidak hanya di hotel berbintang tetapi juga hotel nonbintang. Dengan demikian, manfaat pertumbuhan sektor perhotelan dapat dirasakan seluruh pelaku usaha akomodasi di Kota Probolinggo.
Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan bahwa April 2026 menjadi awal perbaikan bagi sektor perhotelan Kota Probolinggo, ditandai dengan naiknya okupansi sebesar 2,32 poin dan meningkatnya jumlah malam kamar yang terjual. Namun, TPK yang masih berada di angka 20,50 persen serta rata-rata lama menginap yang hanya satu hari menjadi sinyal bahwa pemulihan industri hotel masih memerlukan dorongan dari sektor pariwisata dan penyelenggaraan kegiatan yang mampu mendatangkan lebih banyak tamu dengan durasi tinggal yang lebih panjang.(*)






