PROBOLINGGO – Gunung Bromo kembali jadi sorotan, bukan karena keindahannya, melainkan ulah seorang wisatawan yang nekat menerbangkan paralayang di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Aksi berbahaya ini terekam kamera, lalu viral di jagat maya, memicu gelombang kecaman.
Dalam video singkat itu, tampak sosok wisatawan melayang dengan parasut oranye, seolah menantang hukum alam dan aturan. Sejumlah pengunjung yang berada di lokasi pun terperangah menyaksikan atraksi liar tersebut.
Namun euforia sesaat itu justru memantik amarah. Balai Besar TNBTS dengan tegas menyatakan, penerbangan paralayang di kawasan konservasi Bromo tidak pernah mendapat izin dan mutlak dilarang.
“Sejauh ini kami masih memburu pelaku maupun pemandu wisata yang terlibat. Aktivitas paralayang di kawasan TNBTS jelas melanggar aturan,” tegas Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS, Septi Eka Wardhani, Sabtu (13/9/2025).
Larangan itu bukan sekadar formalitas. Bromo bukan hanya kawasan konservasi, tapi juga tanah yang disakralkan masyarakat adat Tengger.
“Kawasan ini adalah kawasan suci masyarakat Tengger. Sudah seharusnya semua pihak ikut menjaga dan menghormati adat yang berlaku,” imbuh Septi.
Selain melukai nilai budaya, aksi nekat itu juga mempertaruhkan nyawa. Cuaca di sekitar Bromo terkenal ganas—angin kencang bisa datang tiba-tiba, menjadikan atraksi paralayang bak bom waktu bagi keselamatan wisatawan.
Petugas TNBTS kini bergerak cepat, menelusuri jejak wisatawan dan pihak yang memfasilitasi kegiatan liar tersebut. Jika terbukti, hukuman tegas akan dijatuhkan tanpa pandang bulu.
Masyarakat dan wisatawan pun diingatkan: jangan pernah main-main dengan Bromo. Setiap pelanggaran sekecil apa pun bisa berbuah fatal—bagi kelestarian alam, keselamatan jiwa, dan kehormatan budaya Tengger.
Balai Besar TNBTS memastikan patroli diperketat. Harapannya, Bromo tetap berdiri megah, suci, dan terjaga dari ulah nekat yang merusak keindahan sekaligus kesakralannya.
Penulis : Raphel






