PROBOLINGGO – Di balik gemerlap dunia digital, ada sisi kelam yang tak banyak disadari. Kemudahan berkomunikasi lewat aplikasi kini justru membuka jalan bagi praktik prostitusi online. Fenomena ini dikenal dengan istilah Open BO atau Open Booking Order.
Sekilas, dunia Open BO tampak menggiurkan. Uang bisa didapat dengan cepat, hanya bermodal aplikasi dan keberanian.
Namun di balik itu semua, jalan yang ditempuh para Pekerja Seks Komersial (PSK) ibarat meniti di tepi jurang maut—penuh bahaya yang mengintai setiap detik.
Pertama, ancaman penyakit kelamin.
Tubuh mereka menjadi taruhan. Hubungan seks bebas dengan bergonta-ganti pasangan menjadikan PSK sasaran empuk virus mematikan. Sifilis, gonore, hingga HIV/AIDS bisa menempel kapan saja. Satu kali kelalaian, bisa berakhir menjadi vonis seumur hidup.
Kedua, dijadikan korban tanpa bayaran.
Tak jarang, PSK dibiarkan terhina oleh pria hidung belang yang hanya ingin enaknya sendiri. Setelah puas melampiaskan nafsu, mereka kabur begitu saja tanpa memberi sepeser pun bayaran. Harga diri runtuh, tenaga terbuang, dan hanya penyesalan tersisa.
Ketiga, kekerasan fisik yang brutal.
Tidak sedikit PSK menjadi bulan-bulanan kekerasan. Tamparan, tendangan, bahkan penyiksaan dilakukan pelanggan hanya karena keinginannya tak dipenuhi. Bagi sebagian pria, kekerasan adalah bagian dari fantasi kelam mereka.
Keempat, maut yang mengintai.
Inilah risiko paling mengerikan. Kasus demi kasus membuktikan, PSK sering ditemukan tewas mengenaskan. Tubuh terbujur kaku di kamar kos atau hotel, tanpa busana, dengan luka akibat kekerasan. Mereka menjadi korban pembunuhan dingin dari pasangan kencan yang berubah menjadi algojo.
Semua ini adalah potret nyata betapa gelapnya dunia Open BO. Apa yang tampak mudah dan menggiurkan, sejatinya adalah jalan penuh bahaya yang bisa berakhir pada penderitaan, kekerasan, bahkan kematian.
Penulis : Raphel






