Kisah Haical, Santri Asal Probolinggo Korban Runtuhan Pesantren Al-Khoziny Sidoarjo

- Penulis

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 19:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO – Dari reruntuhan beton dan serpihan debu tragedi, lahir kisah kecil yang mengguncang hati banyak orang.

Namanya Syehlendra Haical Raka Aditya, bocah 13 tahun asal Kota Probolinggo yang kini menjadi simbol ketabahan.

Ia selamat dari musibah runtuhnya musala Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, pada Senin (29/9/2025) — tragedi yang merenggut keceriaan banyak santri, namun menumbuhkan kisah keajaiban di balik luka.

Haical baru tiga bulan menimba ilmu di pesantren itu. Kini, setelah menjalani operasi dan kehilangan satu kaki, ia justru menjadi inspirasi tentang arti bersyukur dan bertahan.

Hari itu, Senin sore, Haical menelepon ayahnya, Abdul Hawi (40). “Yah, nanti kalau pulang bawakan ayam bakar, ya…” ujarnya riang.

Panggilan itu hanya berlangsung dua menit — lebih singkat dari biasanya. Tak ada firasat buruk, hanya perasaan aneh yang sulit dijelaskan.

“Biasanya bisa sampai tujuh menit, dia tanya Mama, adiknya, sama ayam peliharaannya,” kenang Abdul Hawi.

Beberapa jam kemudian, kabar menggetarkan datang: musala tempat Haical salat asar runtuh di rakaat ketiga. Puluhan santri tertimbun reruntuhan.

“Saya langsung lemas. Dunia rasanya gelap,” ujar Hawi lirih saat ditemui di rumahnya, Perum Arum Abadi Bogowonto, Kota Probolinggo, Sabtu (18/10/2025).

Tanpa pikir panjang, Abdul Hawi dan istrinya, Dwi Ajeng, bergegas menuju Sidoarjo. Satu jam perjalanan itu terasa seperti seumur hidup.

Baca Juga :  Korupsi Lampu Hias DLH Kota Probolinggo Kembali Seret Pejabat, Satu PPK Resmi Jadi Tersangka

“Saya lihat ambulans keluar-masuk. Saya panggil nama anak saya di setiap rumah sakit. Ada lima santri namanya sama, Haical. Saya cari satu per satu,” kisahnya, suaranya mulai bergetar.

Di tengah kepanikan, sebuah video evakuasi beredar di media sosial. Saat melihatnya, jantung Abdul Hawi serasa berhenti.

“Begitu lihat videonya, saya langsung sujud. Anak itu… anak itu Haical saya,” tuturnya menahan isak.

Proses pencarian dan evakuasi berlangsung tiga hari.

Selasa malam, sekitar pukul 22.00, kabar yang paling ditakuti datang.

“Basarnas bilang anak saya nggak ada napasnya. Saya disuruh berdoa di ambulans,” ucapnya menunduk.

Namun mukjizat datang di tengah tangis. Saat diberi oksigen, Haical memberi tanda kehidupan. Jantungnya kembali berdetak pelan. Ia segera dibawa ke RSUD Sidoarjo diiringi doa dari semua yang menyaksikan.

Sesampainya di rumah sakit, dokter menyampaikan keputusan paling sulit: kaki kiri Haical harus diamputasi hingga lutut karena infeksi berat.

Abdul Hawi menatap anaknya yang masih terbaring lemah. Dunia seolah berhenti.

“Saya hanya bilang, terserah dokter. Saya rela, asal anak saya hidup,” ujarnya, dengan mata berkaca-kaca.

Setelah operasi selesai, kedua kaki kecil Haical diserahkan kepada ayahnya untuk dimakamkan di Desa Sepoh Gembol, Kecamatan Wonomerto, tempat keluarga besar mereka.

“Saya peluk itu kaki sebelum dimakamkan. Saya bilang, ‘terima kasih sudah menemani Haical sejauh ini’,” tuturnya dengan suara serak.

Baca Juga :  DPRD Kota Probolinggo Tinjau Proyek Tugu Batas Kota, Kabel Listrik Berbahaya Belum Dipindah

Ketika sadar dari operasi, Haical tahu kakinya telah tiada. Tapi yang keluar dari mulutnya bukan keluhan. Ayahnya berbisik, “Kalau bisa, Ayah saja yang sakit, Nak…”

“Nggak apa-apa, Ayah. Ayah harus sehat… biar bisa jaga Mama, aku, sama adik.”

Kalimat sederhana itu membuat Abdul Hawi tak kuasa menahan air mata.

Anak kecil itu mengajarkannya tentang keikhlasan, tentang kekuatan yang justru tumbuh dari luka paling dalam.

Dulu, Haical bercita-cita menjadi tentara. Kini, dengan satu kaki, impian itu berganti.

“Cita-cita tentara biar diganti saja jadi anak pintar,” ujar sang ayah dengan senyum getir. “Yang penting Haical sehat.”

Pada Jumat (17/10/2025) kemarin, Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin datang menjenguk Haical di rumahnya. Ia membawa bantuan sembako dan memastikan Haical akan mendapat kaki palsu dari Kementerian Sosial.

“Semangat Haical adalah pelajaran hidup bagi kita semua,” kata Wali Kota.

Kini, Haical belajar berjalan kembali — bukan dengan dua kaki, tapi dengan tekad dan doa yang jauh lebih kuat dari baja.

Dari reruntuhan bangunan, ia membangun semangat baru. Dari kehilangan, ia menemukan arti hidup yang sesungguhnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis : Raphel

Berita Terkait

Satpas Polres Probolinggo Kota Gelar Pelatihan Bahasa Isyarat, Wujudkan Pelayanan Prima bagi Penyandang Disabilitas
Ambisi Besar Tarung Derajat Kota Probolinggo: Dari Pembinaan Pelatih Menuju Tuan Rumah Kejurprov
Dikaitkan Polemik Pita Cukai, Misbakhun Tegaskan Tak Pernah Terlibat
Dari Penjara Menuju Perubahan, Lapas Probolinggo Perkuat Pembinaan Keagamaan Dalam Peringatan Maulid Nabi
Kompolnas Visitasi Dua Nominator Awards 2026 di Jateng, Soroti Inovasi Bhabinkamtibmas
Stunting 26,3 Persen dan Lulusan Kuliah Hanya 3,26 Persen, PCNU Probolinggo Ajukan Tiga Rekomendasi
Sinergi Rutan Kraksaan dan Posbakumadin, Hadirkan Penyuluhan Bantuan Hukum Bagi Warga Binaan.
Terjaring Razia Pekat, 11 LC dari Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, dan Malang Diamankan
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 13:34 WIB

Ambisi Besar Tarung Derajat Kota Probolinggo: Dari Pembinaan Pelatih Menuju Tuan Rumah Kejurprov

Minggu, 13 September 2026 - 12:05 WIB

Dikaitkan Polemik Pita Cukai, Misbakhun Tegaskan Tak Pernah Terlibat

Sabtu, 5 September 2026 - 14:01 WIB

Dari Penjara Menuju Perubahan, Lapas Probolinggo Perkuat Pembinaan Keagamaan Dalam Peringatan Maulid Nabi

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 17:17 WIB

Kompolnas Visitasi Dua Nominator Awards 2026 di Jateng, Soroti Inovasi Bhabinkamtibmas

Senin, 27 Juli 2026 - 16:31 WIB

Stunting 26,3 Persen dan Lulusan Kuliah Hanya 3,26 Persen, PCNU Probolinggo Ajukan Tiga Rekomendasi

Berita Terbaru