GP Ansor Probolinggo Bedah Pro–Kontra Gelar Pahlawan Soeharto

- Penulis

Senin, 17 November 2025 - 19:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO – Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kota Probolinggo menggelar Diskusi Publik Kepahlawanan bertema “Antara Bapak Pembangunan dan Gelar Pahlawan”, pada Senin (17/11), di Café Asyiq. Acara ini menghadirkan empat narasumber: Harmoko, H. Musaffa Safril ketua PW Ansor Jawa Timur, Dedi Bayu Angga, dan Salamul Huda sebagai Ketua PC Ansor Kota Probolinggo, serta diikuti akademisi, aktivis, tokoh masyarakat, dan mahasiswa.

Diskusi berlangsung dinamis, memotret bahwa wacana penganugerahan gelar pahlawan bagi Presiden Soeharto masih menimbulkan perdebatan publik, baik dari sisi historis maupun moralitas politik.

Dalam pemaparannya, Harmoko menegaskan bahwa Soeharto memiliki jasa besar dalam pembangunan nasional. Ia menyebut stabilitas negara, swasembada pangan, industrialisasi, hingga pembangunan desa sebagai pencapaian yang masih dirasakan hingga kini. Menurutnya, capaian tersebut layak menjadi pertimbangan dalam wacana gelar pahlawan.

Namun pendapat berbeda disampaikan Dedi Bayu Angga. Ia menilai, perjalanan Orde Baru juga membawa catatan serius terkait pelanggaran HAM, pembungkaman demokrasi, dan penyempitan kebebasan sipil.

Baca Juga :  Riyadlus Sholihin: Dua Kali RDP, Dugaan Hiburan Terselubung di Homestay Hadi’s Tak Kunjung Ditindak

“Gelar pahlawan tidak bisa diberikan hanya dengan melihat prestasi. Kejujuran sejarah harus menjadi landasan,” ujarnya.

Salamul Huda mengajak publik untuk melihat Soeharto secara proporsional. Menurutnya, figur Soeharto terdiri dari dua sisi: keberhasilan besar dan sisi kelam yang tidak boleh dihapus. Ia menegaskan perlunya membaca sejarah secara objektif, tanpa glorifikasi maupun kebencian berlebihan.

Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, H. Musaffa Safril, menyatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa memaafkan tanpa menghapus ingatan. Ia menilai diskusi terkait Soeharto harus menjadi ruang rekonsiliasi, bukan memperlebar jarak antargenerasi.

“Menempatkan jasa dan kekurangan secara proporsional adalah bentuk kedewasaan bangsa. Jika gelar pahlawan diberikan, itu seharusnya menjadi simbol kematangan kolektif,” tegas Musaffa.

Diskusi semakin memanas ketika peserta mengajukan pertanyaan mengenai kesiapan bangsa berdamai dengan luka sejarah. Sebagian peserta menilai gelar pahlawan bagi Soeharto layak mengingat kontribusinya dalam pembangunan. Namun peserta lain mengingatkan, gelar itu bisa memunculkan polemik baru bila tidak diiringi dengan pengakuan atas kesalahan masa lalu.

Baca Juga :  Pelajari Model Sinergi Pemerintah dan FKUB, FKUB Kabupaten Purworejo Kunjungi Kota Probolinggo

Menjelang akhir diskusi, para narasumber sepakat bahwa gelar pahlawan bagi Soeharto bisa diterima sebagai langkah rekonsiliasi bangsa—dengan catatan memori sejarah tetap dijaga. Gelar tersebut tidak dimaknai sebagai pemutihan masa lalu, tetapi bentuk penghargaan atas jasa besar yang pernah diberikan.

Konsensus tersebut dinilai sebagai wujud kedewasaan nasional dalam menilai sejarah secara proporsional.

Gelaran diskusi ini menegaskan bahwa perdebatan wacana kepahlawanan bukan sekadar persoalan gelar, tetapi proses pembelajaran nasional. PC GP Ansor Kota Probolinggo berharap ruang-ruang diskusi serupa terus digelar sebagai bagian dari literasi kebangsaan serta upaya memperkuat kedewasaan publik dalam membaca sejarah Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis : Raphel

Berita Terkait

MUI Kota Probolinggo Kecam Konten Challenge Miras
CV Melangkah Maju Diduga Langgar Izin Tambang dan Kawasan Hutan di Probolinggo, Polisi Diminta Selidiki
Bukan Sekadar Realisasi, DPRD Kota Probolinggo Tuntut Bukti Nyata Kinerja Pemkot 2025
Penguatan Tim Pudam,dan Memaksimalkan Kinerjanya di tengah Lebaran Sebagai Bentuk Melayani Pelanggan
Ansor Kota Probolinggo Ranting Sumbertaman Jemput Bola, Sasar Duafa dan Balita Gizi Kurang
Tak Difasilitasi, Malah Dipungut: Komunitas Karapan Sapi Brujul Wadul DPRD Kota Probolinggo
Wakil Ketua DPRD Kota Probolinggo Tegaskan Tolak Pilkada Dipilih DPRD
Komisi I DPRD Probolinggo Keluarkan Rekomendasi Tegas Terkait Polemik Homestay Hadi’s
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:23 WIB

MUI Kota Probolinggo Kecam Konten Challenge Miras

Rabu, 22 Juli 2026 - 12:17 WIB

CV Melangkah Maju Diduga Langgar Izin Tambang dan Kawasan Hutan di Probolinggo, Polisi Diminta Selidiki

Senin, 13 April 2026 - 16:53 WIB

Bukan Sekadar Realisasi, DPRD Kota Probolinggo Tuntut Bukti Nyata Kinerja Pemkot 2025

Senin, 23 Maret 2026 - 17:40 WIB

Penguatan Tim Pudam,dan Memaksimalkan Kinerjanya di tengah Lebaran Sebagai Bentuk Melayani Pelanggan

Sabtu, 14 Februari 2026 - 19:46 WIB

Ansor Kota Probolinggo Ranting Sumbertaman Jemput Bola, Sasar Duafa dan Balita Gizi Kurang

Berita Terbaru