Pilkada Langsung Dinilai Boros dan Membebani Daerah, Pejabat Akui Tak Punya Kuasa Ikuti Keputusan Pusat

- Penulis

Sabtu, 17 Januari 2026 - 17:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO – Di tengah kembali menguatnya wacana perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah (pilkada), suara dari daerah mulai menyingkap persoalan yang selama ini jarang diungkap secara terbuka: besarnya anggaran pilkada langsung yang dinilai tidak sebanding dengan manfaat yang diterima masyarakat.

Anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Kota Probolinggo, Heri Poniman, secara tegas menyatakan bahwa pemerintah daerah berada pada posisi pasif dan tidak memiliki kewenangan menentukan sistem pilkada. Seluruh keputusan, kata dia, ditentukan oleh pemerintah pusat bersama DPR RI, sementara daerah hanya menjadi pelaksana kebijakan.

“Di daerah ini kami tidak punya ruang menentukan. Apa pun keputusan pusat dan DPR RI, itu yang harus dijalankan,” ujar Heri, Sabtu (17/1/2025).

Baca Juga :  Sibro Malisi Serahkan Langsung Bantuan PIP kepada 14 Siswa MTs Negeri Kota Probolinggo

Di balik sikap tunduk tersebut, Heri melontarkan kritik tajam terhadap pelaksanaan pilkada langsung yang selama ini dinilai menyedot anggaran dalam jumlah sangat besar. Ia menyebut, biaya politik yang mahal justru menjadi beban keuangan negara dan daerah, tanpa jaminan lahirnya kepemimpinan yang lebih berkualitas.

“Kalau bicara jujur, pilkada langsung itu mahal dan boros. Anggaran yang dihabiskan luar biasa besar, sementara daerah masih bergelut dengan persoalan dasar seperti infrastruktur, layanan publik, dan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Menurut Heri, mekanisme pemilihan kepala daerah melalui DPRD dinilai jauh lebih rasional dari sisi efisiensi anggaran. Ia menilai, dana yang selama ini tersedot untuk pilkada langsung seharusnya bisa dialihkan untuk kebutuhan publik yang lebih mendesak dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Baca Juga :  Santri dan Kiai Geruduk DPRD Kota Probolinggo, Desak Trans7 Minta Maaf

Pernyataan ini menjadi sinyal kuat adanya kegelisahan di daerah terhadap sistem pilkada langsung yang dianggap sarat biaya, berisiko memicu politik transaksional, serta membebani APBD secara tidak langsung.

Meski demikian, Heri menegaskan bahwa sikap resmi pemerintah daerah dan DPRD Kota Probolinggo tetap menunggu keputusan final dari pemerintah pusat dan DPR RI. Namun ia berharap, keputusan tersebut tidak semata didasarkan pada kepentingan politik nasional, melainkan mempertimbangkan beban fiskal daerah dan efektivitas tata kelola pemerintahan.

Penulis : Raphel

Berita Terkait

MUI Kota Probolinggo Kecam Konten Challenge Miras
CV Melangkah Maju Diduga Langgar Izin Tambang dan Kawasan Hutan di Probolinggo, Polisi Diminta Selidiki
Bukan Sekadar Realisasi, DPRD Kota Probolinggo Tuntut Bukti Nyata Kinerja Pemkot 2025
Penguatan Tim Pudam,dan Memaksimalkan Kinerjanya di tengah Lebaran Sebagai Bentuk Melayani Pelanggan
Ansor Kota Probolinggo Ranting Sumbertaman Jemput Bola, Sasar Duafa dan Balita Gizi Kurang
Tak Difasilitasi, Malah Dipungut: Komunitas Karapan Sapi Brujul Wadul DPRD Kota Probolinggo
Wakil Ketua DPRD Kota Probolinggo Tegaskan Tolak Pilkada Dipilih DPRD
Komisi I DPRD Probolinggo Keluarkan Rekomendasi Tegas Terkait Polemik Homestay Hadi’s
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:23 WIB

MUI Kota Probolinggo Kecam Konten Challenge Miras

Rabu, 22 Juli 2026 - 12:17 WIB

CV Melangkah Maju Diduga Langgar Izin Tambang dan Kawasan Hutan di Probolinggo, Polisi Diminta Selidiki

Senin, 13 April 2026 - 16:53 WIB

Bukan Sekadar Realisasi, DPRD Kota Probolinggo Tuntut Bukti Nyata Kinerja Pemkot 2025

Senin, 23 Maret 2026 - 17:40 WIB

Penguatan Tim Pudam,dan Memaksimalkan Kinerjanya di tengah Lebaran Sebagai Bentuk Melayani Pelanggan

Sabtu, 14 Februari 2026 - 19:46 WIB

Ansor Kota Probolinggo Ranting Sumbertaman Jemput Bola, Sasar Duafa dan Balita Gizi Kurang

Berita Terbaru