PROBOLINGGO – Pendapatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo yang bersumber dari layanan BPJS Kesehatan tercatat mengalami penurunan. Sementara itu, pendapatan dari pasien non-BPJS dinilai belum optimal.
Kondisi ini turut diperburuk dengan penilaian bahwa kualitas pelayanan rumah sakit masih belum maksimal. Hal tersebut disampaikan Direktur RSUD dr. Mohamad Saleh, dr. Nurul Hasana Hidayati, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi III DPRD, Jumat (14/11) siang.
Dalam forum tersebut, yang juga dihadiri Dinas Kesehatan PPKB serta RSUD Ar Rozy, dr. Nurul memaparkan sejumlah strategi perbaikan untuk meningkatkan pelayanan sekaligus pendapatan rumah sakit.
Salah satunya adalah penguatan mutu layanan melalui optimalisasi pemanfaatan ruang Instalasi Bedah Sentral (IBS). Fasilitas ini telah dilengkapi peralatan modern serta tenaga medis profesional untuk menangani operasi elektif maupun darurat.
Selain itu, pihak rumah sakit juga berupaya memaksimalkan ruang Presiden Suite, kamar rawat inap berfasilitas premium yang setara hotel berbintang. Dengan desain yang lebih luas dan fasilitas lengkap, ruang ini diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan dan mempercepat pemulihan pasien.
“Enggak mahal kok, Rp1,6 juta per hari. Malah lebih mahal menginap di hotel,” ujarnya.
Dr. Nurul menegaskan bahwa promosi layanan juga akan digencarkan untuk meningkatkan jumlah kunjungan dan kepercayaan masyarakat terhadap RSUD dr. Mohamad Saleh.
Ia juga menjelaskan program prioritas peningkatan layanan rujukan, terutama melalui layanan KJSU (Kanker, Jantung, Stroke, Urologi) serta KIA (Kandungan Ibu dan Anak). Fasilitas pendukung program KJSU dari Kementerian Kesehatan menurutnya menjadi peluang besar bagi rumah sakit untuk memberikan layanan yang lebih komprehensif.
Dalam paparannya, dr. Nurul menyebut pembangunan tiga ruang IBS baru telah rampung sehingga kini RSUD memiliki lima ruang IBS. Pihaknya juga telah menambah genset, melakukan pengadaan ambulans, serta melaksanakan pemeliharaan CT-Scan. Namun, sebagian pengadaan tersebut belum tercatat secara administratif.
Mengenai kebutuhan tenaga kesehatan, ia mengakui kekurangan dokter spesialis, khususnya dokter bedah. Hingga Oktober 2025, total pegawai mencapai 747 orang, terdiri dari ASN, non-ASN, honor daerah, dan pegawai kontrak.
Sejumlah usulan pembangunan, seperti pemeliharaan CT-Scan, pembangunan gedung rehabilitasi medis dan area parkir, pemeliharaan jaringan listrik ruang RIA, serta perbaikan alat sterilisasi CASD, disebutkan belum terealisasi. Termasuk rencana pembangunan ruang manajemen dua lantai di Jalan Kartini.
Menjawab pertanyaan dewan terkait persaingan dengan rumah sakit lain, dr. Nurul menyatakan bahwa perubahan regulasi menjadikan kompetensi layanan sebagai penentu utama, bukan lagi status tipe rumah sakit.
“Tidak ada masalah. Selama ini RSUD dr. Mohamad Saleh tetap menjadi rumah sakit rujukan,” pungkasnya. ***
Penulis : Raphel






