PROBOLINGGO – Wakil Ketua DPRD Kota Probolinggo, Santi Wilujeng, menilai banjir yang merendam permukiman warga di Kelurahan Karenglor terjadi akibat kerusakan plengsengan sungai dan buruknya aliran drainase. Penilaian tersebut disampaikan usai peninjauan lapangan yang dilakukannya pada Senin (19/1/2026).
Menurut Santi, plengsengan di lokasi tidak mampu menahan debit air saat hujan dengan intensitas tinggi. Kondisi itu diperparah oleh aliran sungai yang tersumbat sampah dan vegetasi liar sehingga air meluap ke rumah warga.
“Plengsengannya sudah tidak layak dan aliran air tertutup sampah. Ketika volume air meningkat, sungai tidak mampu menampung dan akhirnya menggenangi permukiman,” ujarnya.
Santi menyebut genangan air di Karenglor telah bertahan selama dua hari dan hingga kini belum sepenuhnya surut. Ia menilai perlu tindakan teknis segera, terutama pengerukan sungai untuk mengurangi volume air serta perbaikan plengsengan yang rusak.
“Sungai perlu dikeruk. Dulu pernah dilakukan pengerukan dan selama bertahun-tahun tidak terjadi banjir. Artinya, ada masalah pada pemeliharaan infrastruktur,” tegasnya.
Dalam peninjauan tersebut, Santi mengaku telah berkoordinasi dengan BPBD dan Damkar. Namun, langkah penanganan darurat dinilai belum optimal karena keterbatasan kewenangan dan kondisi teknis di lapangan.
Selain Karenglor, genangan juga dilaporkan terjadi di kawasan Jrebeng Lor. Berdasarkan keterangan warga, banjir diduga berkaitan dengan sistem drainase baru yang terhubung ke saluran besar arah Gladak Serang. Saat debit air penuh, aliran tidak tertampung dan justru kembali ke permukiman.
“Aduan warga menyebut air berbalik ke rumah. Ini perlu evaluasi teknis menyeluruh terhadap fungsi drainase,” katanya.
Santi juga mencatat sejumlah rumah dengan elevasi rendah telah terendam air, sementara rumah lain hampir terdampak. Ia menegaskan bahwa kejadian ini tergolong baru bagi warga Karenglor, mengingat dalam beberapa tahun terakhir wilayah tersebut relatif bebas banjir.
Terkait pengelolaan lingkungan, Santi menyoroti masih minimnya fasilitas pembuangan sampah yang mudah dijangkau warga. Kondisi tersebut dinilai berkontribusi terhadap kebiasaan membuang sampah ke sungai.
“Perlu solusi konkret agar sampah tidak berakhir di aliran air. Penguatan program pengelolaan sampah harus berjalan bersamaan dengan pembenahan drainase,” ujarnya.
Sementara itu, genangan di sejumlah ruas lain, termasuk Jalan Bogowonto, dilaporkan telah surut. Namun, Karenglor masih memerlukan penanganan lanjutan agar banjir tidak kembali terjadi.
Penulis : Raphel






