PROBOLINGGO – Komisi III DPRD Kota Probolinggo menyoroti rencana pelebaran dua ruas jalan yang diajukan Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPR-PKP) dalam pembahasan R-APBD 2026. Dua jalan yang akan dikerjakan ialah Jalan Kerinci dan Jalan Citarum.
Rencana tersebut terungkap dalam rapat pembahasan anggaran bersama PUPR-PKP, Senin (24/11/2025) siang di ruang Komisi III. Dalam rapat itu, anggota dewan menanyakan skala prioritas dan kemampuan keuangan daerah yang hanya mampu mengakomodasi dua dari sejumlah ruas yang sebenarnya sudah masuk perencanaan DED sejak 2024.
Kepala Dinas PUPR-PKP Kota Probolinggo, Setyorini Sayekti, menjelaskan bahwa pelebaran Jalan Kerinci dianggarkan sebesar Rp 2,5 miliar dan Jalan Citarum sebesar Rp 1 miliar. Ia menegaskan bahwa dua ruas tersebut adalah prioritas Wali Kota dan dipilih berdasarkan urgensi permasalahan di lapangan.
“Anggaran kita memang belum mencukupi untuk semua. Sebenarnya DED yang kami susun 2024 membutuhkan total sekitar Rp 12 miliar, tapi kemampuan daerah belum ada. Jadi hanya dua ruas ini yang bisa masuk 2026,” jelas Setyorini di hadapan Komisi III.
Komisi III DPRD menyoroti hal tersebut, terutama terkait masih besarnya kebutuhan perbaikan jalan yang tidak bisa terakomodasi akibat keterbatasan anggaran. Para legislator juga meminta dinas memastikan bahwa dua proyek prioritas itu betul-betul menyelesaikan persoalan mendesak, yakni kemacetan dan banjir di Jalan Citarum serta akses mobilitas industri di Jalan Kerinci.
Saat diwawancara usai rapat, Setyorini memaparkan alasan dua lokasi itu dipilih. Jalan Kerinci merupakan jalur penghubung kawasan industri, sedangkan Jalan Citarum kerap terjadi kemacetan parah pada jam sibuk dan rawan banjir ketika hujan.
“Di Jalan Citarum itu pengguna jalan selalu terhambat, apalagi pagi hari saat antar-jemput sekolah. Kalau hujan, banjir. Karena itu jadi prioritas,” ujarnya.
Dalam rapat, DPRD juga menyoroti minimnya anggaran pemeliharaan rutin jalan kota yang hanya Rp 304,75 juta untuk tahun 2026. Komisi III mendorong agar perbaikan titik-titik kritis tetap dilaksanakan semaksimal mungkin.
“Memang anggarannya sangat kecil, tapi tetap akan kami gunakan untuk menangani lokasi-lokasi paling mendesak,” tambah Setyorini.
Penulis : Raphel






